BALI DAN KEUNIKANNYA SELAYANG PANDANG (LANJUTAN 5)

Kumpulan-kumpulan tulisan Dharma Wacana oleh Singgih Ida Pedanda Gede Made Gunung
Post Reply
User avatar
Ida Pedanda Gunung
Posts: 2508
Joined: Wed Jan 09, 2013 3:44 pm

BALI DAN KEUNIKANNYA SELAYANG PANDANG (LANJUTAN 5)

Post by Ida Pedanda Gunung » Thu Jan 09, 2014 6:46 am

BALI DAN KEUNIKANNYA SELAYANG PANDANG (LANJUTAN KE 5).

Perlu saya tulis disini bahwa apa yang tertera di tulisan ini adalah merupakan hasil pengamatan saya sendiri, oleh karena itu, bila ada beda pendapat dalam menanggapi itu adalah sesuatu yang wajar, mungkin munculnya perbedaan itu bermula dari beda cara pandang.

Sistim kehidupan umat Hindu di Bali seperti saya tulis sebelumnya sudah ditata rapi oleh leluhurnya terdahulu sebagai arsiteknya, dalam konsep menyerupai telor (mengikuti ajaran Brahmandha Purana). Telor itu terdiri dari tiga bagian;

Bagian yang paling tengah disebut sarinya, kemudian bagian keduanya itu putihnya, bagian yang paling luar adalah kulitnya. Nah kalau kita amati secara saksama, kehidupan beragama, kehidupan bermasyarakat di Bali persis seperti itu; Kuning telor itu adalah Agama Hindu yang kita cintai sebagi sumber energi kehidupan, putihnya adalah wangsa-wangsa yang begitu banyaknya, sebab sistim kewangsaan di Bali adalah sebuah jalan untuk berbhakti kepada leluhur (ajaran catur guru), dan masing-masing wangsa memiliki orbit masing-masing mengitari agama (kuning telor itu sendiri), menjaga dan mendapat energi dari ajaran agama hindu itu sendiri, kemudian lembaga-lembaga adat seperti; Banjar, Desa Pakraman (desa adat), subak, seka-seka, pemaksan-pemaksan itu sebagai kulit dari telor itu sendiri.

Ketiga unsur ini saling keterkaitan satu sama yang lain merupakan satu kesatuan yang bulat dan utuh, jika salah satu dari dua unsur tadi yaitu putih dan kulit telor itu terkoyak-koyak, maka telor tersebut akan tidak bisa menetas, kuning telur tidak bisa berbuat apa-apa, selanjutnya dia akan busuk tak berguna.

Oleh karena itu kita semua yang mencintai Bali mari kita jaga keutuhan telor itu agar nantinya dapat menetas dengan sempurna melahirkan seniman kaliber dunia, melahirkan sastrawan kaliber dunia, melahirkan kekaguman bagi orang luar sehingga mereka tertarik untuk mengunjungi Bali. Namun harapan saya siapa saja yang datang ke Bali dan atau menetap di pulau Bali harus ikut berpartisipasi menjaga Bali, termasuk pemerintah, tidak hanya dalam teori belaka.

Nah sekarang kalau kita perhatikan, kulit telurnya sudah mulai retak-retak ( mengalih fungsikan lahan sawah ) sedang-sedang maraknya demi mendapatkan keuntungan sesaat, sehingga sistim subak akan lenyap ditelan kebodohan, pengakuan PBB. tentang subak sebagai warisan budaya dunia, mungkin tidak akan bisa bertahan lama. Demikian pula Desa adat sudah mulai mendapat pukulan-pukulan kecil-kecil kalau kita tidak waspada nasib desa adat/pekraman akan senasib dengan subak. Untuk itu dalam hal ini disamping perhatian dan kewaspadaan penduduk Bali khususnya dan kita semua, juga sangat diperlukan peningkatan perhatian pemerintah daerah sampai pemerintah pusat di dalam menjaga dan melestarikan warisan leluhur kita ini. Bila kulit telurnya sudah retak-retak, apa yang dapat kita harapkan lagi?

Selanjutnya wangsa-wangsa yang ada di Bali sebagai putih telurnya juga sudah ada tanda-tanda kekurang harmonisan, disebabkan oleh kekurang mengertian kita, didorong oleh fanatisme sektoral. Disini saya tidak bermaksud menyalahkan si A, si B, yang salah kita semua. Semestinya kita harus dapat menjaga keharmonisan itu secara bersama-sama dan secara terus menerus. Untuk menjaganya kita semestinya membangun komunikasi yang bagus harmonis diantara kita, sebab rasa persatuan dan kesatuan itu landasan utamanya adalah komunikasi, demikian pula keharmonisan itu sendiri.

Bila hal itu tidak kita bangun mulai sekarang, niscaya Bali dengan segala unsurnya hanya tinggal kenangan belaka. Kita tau bahwa satu hal yang hilang sangat sulit untuk mengembalikannya. Kalimat Bali Pulau Sorga, Bali Pulau Dewata dsb, tak ubahnya seperti batu nisan nantinya, yang rugi siapa? Inilah yang saya lihat keunikan yang ada di Bali dan mungkin tidak ditemui di tempat lain. Menyatunya agama (agama menjiwai) terhadap adat budaya dan seni dan segala asfek kehidupan orang Hindu di Bali belum ditemuai di tempat lain, inilah yang saya maksudkan keunikan.

(bersambung)

Post Reply

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 3 guests