KETUHANAN HINDU DI BALI (Sambungan dari Bagian 6)

Kumpulan-kumpulan tulisan Dharma Wacana oleh Singgih Ida Pedanda Gede Made Gunung
Post Reply
User avatar
Ida Pedanda Gunung
Posts: 2508
Joined: Wed Jan 09, 2013 3:44 pm

KETUHANAN HINDU DI BALI (Sambungan dari Bagian 6)

Post by Ida Pedanda Gunung » Mon Jan 13, 2014 7:33 am

KETUHANAN HINDU DI BALI (Sambungan dari Bagian 6)

Dengan Hindu di Bali menganut sistim Ketuhanan seperti tersebut di atas maka, semua aktifitas orang-orang Hindu di Bali berketuhanan. Makanya bagi mereka yang tidak tau tentang itu mengatakan macem-macem, walaupun secara spiritual, secara kerokhanian kita tidak boleh menghina tatacara orang meyakini Tuhannya, apalagi menyalahkan. Bila ada orang yang sampai berani mengatakan setiap orang yang berbeda cara meyakini Tuhannya itu salah dan cara mereka yang paling benar ITU BERARTI MEREKA BELUM MENDALAMI ILMU KETUHANANNYA, MUNGKIN ILMU KETUHANANNYA MASIH DALAM TATARAN LAPISAN PERMUKAAN, KARENA MENJELEKAN, APALAGI MENGHINA ITU MERUPAKAN WUJUD DARI EGOISME ATAU KEBODOHAN.

Sebab Tuhan itu maha Agung, Maha.... Maha.... Saya coba berikan contoh untuk pembanding; Kalau masih ada orang Bali mengatakan matahari itu adalah Matahari orang Bali, sebab Matahari dilihatnya mulai terbit di Karangasem dan terbenam di Gilimanuk, maka kalau ada orang lain mengatakan di daerahnya juga ada matahari seperti ini, lalu orang Bali itu marah dan menghina dia, naaahhh!!! pemikiran seperti inilah yang disebut masih kurang mendalami keberadaan matahari itu sendiri, jadi dia berpikiran sangat sempiiiitttt... Saya mohon kehadapan Tuhan supaya Tuhan menyinari pikiran mereka agar terang dapat melihat lebih luas lagi. Yang mana sebenarnya Matahari cuma satu di alam semesta ini. Namun sinarnya memancar beribu-ribu menerangi bumi, dan sinar Matahari mengandung beribu-ribu zat yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk kepentingan hidupnya. Kalau masih ada orang yang hanya dapat memanfaatkan sinar Matahari itu hanya untuk mengeringkan jemuran saja, jangan dong menyalahkan apalagi menghina mereka yang dapat memanfaatkan sinar Matahari untuk dijadikan tenaga listrik, sebab mereka lebih maju dan lebih luas pandangannya terhadap keberadaannya Matahari.

Disitu letak keunikan Hindu di Bali menghayati Tuhannya. Ada yang menilai bahwa Hindu di Bali dalam melaksanakan ajaran agamanya masih dalam tataran budaya, adat. Naaaah!!! penilaian seperti inilah nantinya bisa menimbulkan hal-hal yang negatif dalam kaitannya dengan persatuan dan kesatuan diantara kita. Andaikata benar demikian orang Hindu di bali seperti itu, APA RUGINYA MEREKA YANG MENILAI ITU? jika orang Bali mau mengikuti seperti apa yang mereka lakukan, APA UNTUNGNYA MEREKA ITU. Sebab menurut saya pribadi, urusan hubungan manusia dengan Tuhannya itu hubungan yang sangat pribadi sekali.

Kalau kita umpamakan agama itu adalah sebuah jalan menuju Tuhan (baca kitab Sarasamuscaya), lalu saya umpamakan Jakarta adalah tujuan perjalanan kita, apakah harus semua orang naik pesawat kesana? apa ada undang-undang mengharuskan ke Jakarta harus naik pesawat? Nah kalau tidak, biarkanlah mereka datang ke jakarta naik mobil, naik kereta, bahkan ada juga yang naik sepeda ontel. Jangan dong mereka yang naik pesawat menghina mereka yang naik sepeda ontel. Sebab tujuan perjalan kita sama kok. Walau pun demikian saya menghimbau kepada Umat Hindu di Bali khususnya, mari kita belajar terus, jangan berhenti sebatas di upacara, Hindu banyak memilki konsep-konsep menuju kehidupan yang damai sekala dan niskala, lanjutkan ...., lanjutkan... sebab dasar agama Hindu itu ada tiga; Tattwa, Susila, Upacara.

Artinya; upacara bersusila dan bertattwa, susila berupacara dan bertattwa, tattwa bersusila dan berupacara. ketiganya itu bermediakan budaya dan seni serta adat. Inilah uniknya Bali. Disini saya memberikan sedikit persyaratan melaksanakan upacara agama Hindu sebagai gambaran/pegangan;

1. Kemauan, artinya; ada kemauan untuk melaksanakan upacara?

2. Kemampuan. artinya ada/memiliki kemampuan (terutama kemampuan dibidang ekonomi)?.

3. Sikon, artinya lihatlah situasi dan kondisinya.

4. Sastra, artinya carilah/mohon petujnuk kepada yang berwewenag (sulinggih) untuk besar kecilnya upacara di dalam sastra yang harus disesuaikan dengan kemampuan si pelaku upacara. Gunakanlah upacara itu sebagi media pendidikan di dalam meningkatkan moralitas.

(bersambung)

Post Reply

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 3 guests