Setelah Menjabat, Menengoklah ke Bawah

Kumpulan-kumpulan Dharma Wacana Ida Pedanda Gede Made Gunung dalam bentuk Video / Audio / Foto dan artikel-artikel media tulis tentang Ratu Peranda dari berbagai sumber media.
Post Reply
User avatar
Admin
Admin
Posts: 213
Joined: Mon Jan 07, 2013 4:28 pm
Location: Bali

Setelah Menjabat, Menengoklah ke Bawah

Post by Admin » Mon Apr 15, 2013 3:03 pm

agunung.JPG
agunung.JPG (39.55 KiB) Viewed 4322 times
Wakil rakyat atau pejabat hendaknya menyerap dan melaksanakan filsafat penjor di bagian tertinggi kemudian melengkung ke bawah. Demikian halnya pejabat, setelah mencapai kedudukan tertinggi hendaknya sering menengok keadaan rakyatnya di bawah.

Ida Pedanda Gede Made Gunung menyampaikan hal itu saat memberikan darma wacana di depan ribuan pegawai dan Bupati Karangasem Drs. IG Sumantara AP., Wabup Drs. IGP Widjera, dan pejabat Muspida Karangasem lainnya, Kamis (11/3) kemarin di gedung kesenian Amlapura. Darma wacana itu digelar Pemkab Karangasem dalam rangka menyambut hari raya Nyepi tahun saka 1926, dengan tema Dengan Brata Penyepian Umat Hindu Bertekad Mensukseskan Pemilu Damai.

Umat Hindu--apalagi pejabat beragama Hindu--katanya hendaknya meresapi simbol atau rambu yang banyak dipasang di pura berkaitan dengan pelaksanaan yadnya. Saat melasti atau di pura ada tombak pajenengan, pajeng (payung), kober bergambar garuda atau hanuman, serta penjor. Kober atau penjor, menjulang tinggi, kemudian melengkung ke bawah dan itulah yang dihias. Filsafatnya, sebagai umat manusia hendaknya berusaha mengejar cita-cita setinggi bintang di langit. Namun setelah cita-cita, keinginan atau jabatan tercapai, hendaknya tak takabur, tetapi menengok ke bawah, melihat orang yang ada di bawah dengan berbagai penderitaan dan kemiskinan. Saat berjalan pandangan jangan ke atas terus, karena kaki bisa tersandung dan jatuh. Di bagian ujung kober yang melengkung pasti ada gantungan berbentuk jantung, maknanya menengok ke bawah dengan cinta kasih. Demikian halnya di ujung lengkung penjor digantungi sampian tempat canang. Maknanya, hendaknya seseorang yang mencapai kedudukan tertinggi melihat ke bawah dengan rasa atau kebijaksanaan seperti yang disabdakan Tuhan, paparnya.

Darma wacana Ida Pedanda dari geria di Blahbatuh itu selain menarik dan terkadang kocak. Hal itu kerap disambut tepuk tangan dan tertawa hadirin. Berkaitan dengan pelaksanaan pemilu ini, umat Hindu hendaknya menghargai perbedaan aspirasi dengan arif dan bijaksana. Soalnya, sejak dulu para leluhur telah menanamkan toleransi, menghargai perbedaan dan demokrasi. Dia mencontohkan budaya magibung (makan bersama) yang masih bertahan di Karangasem, sementara di daerah lain sudah dipunahkan oleh cara makan prasmanan. Filsafat magibung sungguh tinggi, makan bersama tak mengenal tingkatan orang dari materi atau kedudukan bisa makan bersama dengan aturan yang dipatuhi peserta makan. Seperti lawar dari berbagai jenis menjadi satu, menimbulkan rasa lawar yang enak. Begitulah hendaknya masyarakat melihat perbedaan jenis dan warna, jika disatukan bakal menjadi enak. Demikian halnya seperangkat gamelan gong dengan berbagai perbedaan bentuk, bahan dan bunyinya, namun kalau penabuhnya mahir memainkan dengan aturan yang telah disepakati, maka akan menghasilkan bunyi atau nada yang menawan. Pada zaman yang serba tradisional, para leluhur kita dari seluruh Bali bergotong royong membangun pura atau rumah dengan batu atau paras, tetapi kini jangan ada oknum atau simpatisan parpol yang mengambil batu digunakan untuk melempari kepala atau rumah orang lain, pesan Ida Pedanda.

(Sumber: Bali Post)

Post Reply

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest