''Dharma'' Menang, jika Umat Mampu Mengendalikan Diri

Kumpulan-kumpulan Dharma Wacana Ida Pedanda Gede Made Gunung dalam bentuk Video / Audio / Foto dan artikel-artikel media tulis tentang Ratu Peranda dari berbagai sumber media.
Post Reply
User avatar
Admin
Admin
Posts: 213
Joined: Mon Jan 07, 2013 4:28 pm
Location: Bali

''Dharma'' Menang, jika Umat Mampu Mengendalikan Diri

Post by Admin » Mon Apr 15, 2013 3:08 pm

Galungana3.JPG
Galungana3.JPG (26.73 KiB) Viewed 4624 times
Kliwon Wuku Dungulan mendatang, umat Hindu kembali merayakan hari raya Galungan. Menariknya, perayaan Galungan kali ini sangat berdekatan dengan perayaan Nyepi. Nyepi tahun baru Saka 1927 jatuh pada Pahing Galungan, Jumat (11/3). Bagaimana mestinya umat memaknai perayaan hari keagamaan itu?

Perayaan hari raya Galungan yang disusul hari raya Nyepi yang jatuhnya berdekatan, memiliki makna khusus. Terlihat saling bertolak belakang, tetapi sesungguhnya saling mendukung. Setidaknya hal itu disampaikan Ketua Peradah Karangasem Drs. IP Arnawa, S.Ag., M.Si. Selasa (1/3) kemarin di Amlapura. Arnawa yang juga Ketua Sabha Yowana Karangasem mengatakan, sepintas dari segi pelaksanaan terlihat terjadi aktivitas yang saling bertolak-belakang.

Pada saat hari raya Galungan mulai dari penyajaan, penampahan, Galungan sampai Umanis Galungan, terlihat ada aktivitas berhura-hura. Ada pesta usai penampahan dengan ngelawar, usai sembahyang (masoda) lalu makan. Saat Galungan merayakan kemenangan dharma dengan mengalahkan adharma atau sang Bhuta Biga yakni Bhuta Dungulan, Bhuta Galungan dan Amangkurat. Keesokan harinya pada Kamis (10/3) Umanis Galungan usai sembahyang, umat terutama kalangan anak muda biasanya menggunakan kesempatan dengan mendatangi objek wisata. Di sini terkesan ada aktivitas hura-hura. Padahal, saat Umanis Galungan itu sudah dilaksanakan Tawur Kesanga, tak diberikan kesempatan banyak melakukan berhura-hura.

Sebaliknya, usai Tawur Kesanga disusul catur brata penyepian yang intinya melakukan pengendalian diri. Di sini, umat Hindu diwajibkan melakukan amati geni (tak menyalakan api, serta mengendalikan api di dalam tubuh), amati karya (menghentikan segala aktivitas kerja), amati lelungan (tak bepergian) dan amati lelanguan (tak menikmati hiburan).

Amati geni, kata Arnawa yang juga Wakil Ketua III PHDI Karangasem Bidang Kemasyarakatan (tak aktif) ini, bukan semata tak menyalakan api dan listrik PLN di sekala. Lebih jauh dari itu, juga umat Hindu dituntut belajar mengendalikan api di dalam tubuh manusia, seperti api amarah (emosi), api nafsu dan sejenisnya. ''Jika dalam kehidupan kita tak mampu mengendalikan api di dalam tubuh kita (mikrokosmos) -- tetapi dibiarkan dikobarkan -- akan bisa merugikan atau merusak diri sendiri. Emosi atau api amarah yang tak terkendali bisa menimbulkan perkelahian, dalam skala besar bisa menimbulkan peperangan. Api nafsu birahi yang diumbar bisa menyebabkan kesengsaraan, baik di dunia maupun di alam setelah mati. Api di dalam tubuh tak perlu dipadamkan, tetapi harus dikendalikan,'' paparnya.

Begitu halnya amati karya, tak semata sehari itu berhenti melakukan aktivitas kerja -- lalu kegiatan diisi dengan main kartu. Di sini hendaknya dihindari perbuatan negatif, seperti madat (tak merokok dan menggunakan narkoba), minum miras (mabuk), madon (mamitra), maling (mencuri) dan mamotoh (tak berjudi). Namun, maknanya yang perlu kita laksanakan yakni menyepikan diri, justru diisi kegiatan spiritual, seperti bermeditasi, merenungi diri apa berbuatan salah (tak terpuji) dilakukan setahun ini. Berikutnya, merenung untuk berlaku yang baik. Tak bepergian, sehingga juga tak ada aktivitas kendaraan bermotor, bisa mengakibatkan pengiritan dan lebih dari itu menyepikan dunia sehingga sehari itu terhindar dari polusi udara akibat gas buangan BBM. Saat catur brata penyepian yang digelar usai melasti bermakna ngiring pratima sebagai pelinggih Batara ke laut melebur kekotoran, lalu angamet (mengambil) tirta amerta di tengah laut (samudera). Tirta itu dipercikkan ke parahyangan, pawongan dan palemahan, sehingga tercipta kesucian dan kesejahteraan di alam ini.

Saat itu keesokan harinya dilanjutkan dengan catur brata penyepian. Saat itu kita merenung kembali ke titik nol, kosong dan keesokan harinya ngembak geni, kembali ada aktivitas makrokosmos dan mikrokosmos, dengan keadaan yang lebih baik, lebih baru dari setahun sebelumnya. ''Itu tekad dan tatwa dari pelaksanaan rangkaian hari raya Nyepi. Soal bagaimana pelaksanaannya, tergantung kita. Apakah mampu ataukah tidak. Orang bijaksana telah mengatakan, tak cukup cuma dengan upakara bebantena, tetapi yang terpenting bagaimana kita dituntut mampu melaksanakan praktik dari ajaran agama itu,'' katanya.

Arnawa mengatakan, diharapkan berhimpitan datangnya hari raya Galungan, Tawur Kesanga (hari raya Nyepi) ini dimaknai merayakan kemenangan dharma atas adharma tak mesti disambut dengan hura-hura. Tetapi pada saat bersamaan juga mesti melakukan pengendalian diri. Jika kita mampu mengendalikan diri, niscaya kebaikan akan selalu muncul dari diri kita, dharma akan menang pada tiap saat. ''Kalau dharma dimenangkan tiap saat, kita terjadi kedamaian (santhih) di dalam diri dan alam semesta,'' kata Arnawa.



Nyepi Desa
Sementara itu, Klian Desa Pakraman Jasri Drs. I Nyoman Putra Adnyana menyampaikan, saat pangerupukan hari raya Nyepi ini, di desanya digelar pecaruan diringi dengan tradisi khas ter-teran. Ter-teran yakni tradisi perang api. Di mana menjelang petang setelah krama pulang dari ngelebar banten caru di pantai Jasri, digelar perang api. Ratusan obor atau prakpak dari bahan danyuh (daun kelapa kering) diikat dan disulutkan ke api, dipakai senjata. Bobok itu dipakai saling melempar antardua kelompok, pemangku yang sebelumnya ngantebang banten caru ke segara juga tak luput dari serangan obor. Hal itu juga bermakna menahan atau mengusir wong bedolot yang mengikuti krama datang dari ngelebar banten pecaruan di pantai.

Filsafatnya di antaranya mengadung praktik pengendalian diri. Meskipun terkena api karena dilempari -- akibat saling lempar -- tak ada yang boleh emosi. Saat ter-teran (perang api) itu juga mengandung makna agar tiap orang/umat selalu waspada. Jika tidak waspada dan tak cepat menghindari bahaya, akan terkena lemparan api teman. Meski terkena api, jarang yang sampai menjadi luka bakar. ''Usai upacara tak ada yang boleh memandam amarah atau dendam,'' ujar Putra Adnyana yang juga Wakil Ketua PHDI Karangasem itu.

Selain hari raya Nyepi dalam rangka menyambut datangnya tahun baru Saka, di banyak desa tua di Karangasem juga sebelumnya sudah digelar penyepian desa pakraman. Nyepi desa itu biasanya digelar sehari usai ngusaba desa. Maknanya antara lain mengendalian diri, penyucian tiga perbuatan yang mesti disucikan (trikaya yang diparisudha), sehingga upacara di desa setempat mendapat karma yang baik atau suci. Tradisi penyepian desa, terlihat cuma digelar di Karangasem.

Moral belum Kuat
Sementara itu, Ida Pedanda Gde Made Gunung saat menyampaikan dharma wacana Senin (28/2) lalu di Gedung Kesenian Amlapura mengatakan, mudah resah cuma karena mendapat informasi (isu) yang tak jelas sumbernya, bukti bahwa moral umat Hindu masyarakat Bali belum kuat. Karena itu, hendaknya mampu mengendalikan diri dan tak mudah terpengaruh isu, apalagi fitnah orang lain. ''Cepat terpengaruh, resah karena memperoleh informasi yang belum jelas sumbernya (isu) bukti bahwa moral dan pengendalian diri masyarakat Bali belum kuat. Ini perlu dikuatkan. Kita perlu banyak belajar, misalnya lewat membaca buku cerita yang mengandung kebajikan,'' ujar Ida Pedanda.

Dalam dharma wacana bertema ''Pengendalian diri dan mengembangkan sikap kasih kepada sesama itu'', Ida Pedanda dari Geria Purnamawati, Blahbatuh, Gianyar ini menyampaikan, umat Hindu hendaknya mampu mengendalikan diri. Dalam situasi dan kemajuan zaman seperti belakangan ini, 5 M yakni mamotoh (berjudi), mamunyah (suka mabuk miras), madon/mamitra (berselingkuh), madat (mengisap candu/narkoba) dan memaling (suka mencuri) merupakan sifat buruk yang mesti dihindari. Jika tidak, hal itu bisa menimbulkan kehancuran diri dan menimbulkan keresahan masyarakat. ''Kalau sudah kena narkoba, tinggal siap-siap menyediakan kain kafan (berarti siap-siap cepat atau lambat tinggal menunggu kematian-red),'' katanya.

(Sumber: Bali Post)

Post Reply

Who is online

Users browsing this forum: Tranoei and 1 guest