Budaya dan Sastra Bali seperti Bonsai

Kumpulan-kumpulan Dharma Wacana Ida Pedanda Gede Made Gunung dalam bentuk Video / Audio / Foto dan artikel-artikel media tulis tentang Ratu Peranda dari berbagai sumber media.
Post Reply
User avatar
Admin
Admin
Posts: 213
Joined: Mon Jan 07, 2013 4:28 pm
Location: Bali

Budaya dan Sastra Bali seperti Bonsai

Post by Admin » Mon Apr 15, 2013 3:09 pm

gunungbw.JPG
gunungbw.JPG (19.77 KiB) Viewed 4597 times
Ida Pedanda Gede Made Gunung prihatin budaya dan sastra Bali seperti bonsai. Ketenaran budaya Bali yang ditunjang sastra daerah makin kerdil karena para penuturnya berkurang. Fakultas Sastra Daerah yang menjadi gudang ilmuwan sastra ini makin sepi peminat dan terpinggirkan.

''Budaya Bali akan lenyap manakala penutur bahasa Bali hilang,'' katanya dalam darma wacana pada civitas akademika Fakultas Pendidikan Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Dwijendra Denpasar, Sabtu (26/2) lalu.

Ketika budaya Bali lenyap, turis-turis tak lagi tertarik ke sini, Bali akan hancur dan tamatlah umat Hindu di Bali. ''Hanya melalui budaya dan sastra daerah, Bali bisa ajeg,'' tegasnya. Oleh karena itu warisan budaya termasuk tata ruang Bali adalah konsep budaya dan tata ruang yang sudah dirintis ketika zaman Mpu Kuturan dan Dang Hyang Dwijendra hendaknya dipegang teguh dan dipertahankan.

Ida Pedanda menilai Bahasa Bali makin berkurang peminatnya diganti oleh bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. ''Orang Bali di rumahnya mulai mengajarkan anaknya bahasa Inggris atau Indonesia, sementara bahasa ibunya makin ditinggalkan,'' katanya. Celakanya, bahasa Inggris menjadi prioritas dan dikursuskan sementara bahasa Bali hanya pelengkap pengajaran di SMP, SMA maupun universitas. ''Coba saja siswa yang mendapat bahasa daerah lima tak naik kelas, sastra daerah akan makin diminati seperti mata pelajaran lainnya,'' katanya.

Dia mengajak Fakultas Pendidikan Sastra Daerah melakukan terobosan agar penutur bahasa Bali tak makin berkurang. ''Kami berharap Undwi mampu menjadi mercusuar dan pelopor sastra daerah sesuai visi dan misi budaya dan sastra Bali,'' katanya.

Dalam menyikapi tanda-tanda zaman yang muncul diingatkan umat Hindu jangan mudah kaget. Umat Hindu mesti mampu mengendalikan diri, kesabaran dan kasih sayang. ''Setiap umat Hindu pasti menghendaki kebahagiaan,'' katanya.

Sebagai contoh, tanda colek pamor di bangunan rumah atau pelinggih hendaknya dianggap sebagai pertanda cinta, layaknya sepasang kekasih di masa remaja. Artinya ada kecintaan atau umat lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan melaksanakan ajaran-Nya.

Ketua Yayasan Dwijendra Drs. I.B. Wiyana yang baru dilantik beberapa bulan menyatakan sudah bertekad mengamankan budaya dan sastra daerah melalui pendidikan. Salah satunya dimulai dengan hal yang ringan-ringan. Misalnya, pedagang bakso sapi dilarang berjualan di sekitar lingkungan Dwijendra, termasuk pedagang berkaki empat -- babi atau sapi dilarang dipotong berkaitan dengan hari raya di lingkungannya.

(Sumber: Bali Post)

Post Reply

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest