Buku Harian dan 325 Sulinggih

Kumpulan-kumpulan Dharma Wacana Ida Pedanda Gede Made Gunung dalam bentuk Video / Audio / Foto dan artikel-artikel media tulis tentang Ratu Peranda dari berbagai sumber media.
Post Reply
User avatar
Admin
Admin
Posts: 213
Joined: Mon Jan 07, 2013 4:28 pm
Location: Bali

Buku Harian dan 325 Sulinggih

Post by Admin » Mon Apr 15, 2013 3:11 pm

gunung1.gif
gunung1.gif (44.65 KiB) Viewed 4746 times
SOSOK Ida Pedanda Gede Made Gunung belakangan memang banyak diperbincangkan umat. Tokoh Hindu yang satu ini dinilai banyak kalangan memiliki pemikiran-pemikiran yang jauh ke depan dan memiliki selera humor yang tinggi. Tak mengherankan jika acapkali wajah sulinggih yang satu ini muncul di TV, khususnya televisi lokal-Bali, memberikan dharma wacana. Bahkan, kaset dharma wacana-dharma wacana-nya yang bertebaran pun sangat digandrungi umat. Siapa sebetulnya Ketua Umum PHDI Bali hasil Lokasabha Campuhan ini? Sebelum mediksa, Ida Pedanda mengaku dua tahun sebelumnya sudah mulai mengarahkan pola pikir, tindakan dan bicara sedikit-demi sedikit. Sehingga jangan sampai masuk ke dunia yang lain. Tahun 1994 Ida Peranda lantas mediksa, sementara tahun 1992 sudah mulai menerima tamu dan memberikan kebijakan.

Sebelum menjadi pendeta, kira-kira 4 bulan sebelum mediksa, Pedanda mengaku suatu hari pernah ke RS Sanglah untuk melihat bagaimana kondisi orang sakit dan merasakan penderitaan mereka agar terpancing perasaan-perasaannya.

Peranda lantas lewat UGD, sal-sal semuanya hingga kamar mayat. Setelah itu pindah ke RS Wangaya. Setelah itu Peranda juga melihat surga duniawi yaitu di Tiara Dewata, melihat bagaimana anak-anak bermain-main, menikmati santapan, padahal enggak belanja. ''Sampai Peranda diikuti satpam, mungkin ia heran melihat orang seperti Peranda yang pakai jenggot, rambut panjang dan pakai udeng datang ke sana enggak karuan tujuannya.''

Setelah itu, Pedanda pindah ke Matahari yang waktu itu baru buka. Ke diskotek? ''Enggak, masalahnya kalau ke sana kan harus pakai duit, sedangkan tempat lainnya tidak.'' Setelah itu ke pasar burung, mendengar kicauan burung. ''Di samping itu Peranda punya teman yang menggali pasir dan dibawa ke Klungkung. Peranda ikut nyupir truk, merasakan bagaimana rasanya. Setelah itu Peranda anggap cukup dan mulai menyusun program tangkil kepada para sulinggih se-Bali. Jadi dalam buku harian Peranda tercatat pernah tangkil kepada 325 sulinggih,'' papar Pedanda Gunung. Mengapa Ida Pedanda melakukan hal itu? ''Karena Peranda mengandaikan diri tengah membangun. Maka kita juga melihat model mana yang kita akan tiru. Semuanya sangat mendukung apa yang Peranda alami sekarang. Semuanya babonnya dari sana. Masalahnya begitu jadi peranda, orang yang nangkil itu bermacam-macam. Ada yang emosional, kita harus menghadapinya dengan sabar. Walaupun dulunya Peranda adalah orang yang paling tidak sabar. Terutama saat jadi pelatih karateka itu kan keras. Harus main pukul. Sekarang masih main pukul tapi pukulan rohani. Kerohanian itu akan berjalan, baik apabila didukung oleh fisik dan mental yang kuat.''

Pedanda Gunung berasalan memiliki prediksi, bahwa sebagai sulinggih bukan tujuan utamanya untuk muput yadnya. ''Harapan Peranda adalah dapat mengikuti kerohanian yang sesuai dengan jenjang yang harus Peranda ikuti. Tetapi kalau Peranda mengharapkan jadi sulinggih agar dapat muput yadnya, kalau enggak ada orang ngaturang kan stres jadinya. Rugi kan?'' Jadi, kata Pedanda, bukan itu. ''Motivasi Peranda beda. Nanti umat yang bisa menilai. Ada orang datang Peranda terima, kalau tidak ada yang datang ya tidak apa-apa. Karena Peranda menganggap seperti air pancuran. Air pancuran itu ada orang bawa ember mengambil air ia tetap ngecor. Tidak ada yang datang tetap juga ngecor.''

MENYINGGUNG rencana upacara mecaru untuk keseimbangan bumi pertengahan November di Kuta, terkait kasus 12 Oktober lalu, Ida Pedanda Gunung mengatakan upacara itu sebagai upaya menciptakan keseimbangan.

Menurutnya, upcara itu tidak bisa dikatakan besar-besaran. Namun tepatnya adalah upacara yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi atas kejadian itu. Ilustrasinya begini, kalau seseorang punya luka besar, tentu harus dijarit. Jadi seperti upacara itu bukan besar-besaran, namun sesuai dengan lukanya. "Jika kita buatkan upacara kecil di sana ibaratnya seperti luka besar ditempel tensoplas, kan tidak ada gunanya," tandas Ketua Umum PHDI Bali hasil Lokasabha Campuhan asal Griya Gde Purnawati, Blahbatuh, Gianyar itu.

Ia Pedanda menganggap bahwa upacara itu bukanlah hal yang istimewa, namun harus tetap dilakukan. Pedanda mengilustrasikan, kalau seseorang di rumah, ada orang yang jatuh, maka dilakukan upacara, tetapi sesuaikan dengan peristiwa itu. ''Bukan berarti kalau ada orang jatuh, tangannya patah, lantas diadakan upacara yang besar.''

Jika saat upacara masih ada potongan tubuh atau jenazah yang baru ditemukan, apakah tidak leteh? Menjawab pertanyaan itu Pedanda mengingatkan pada ajaran Hindu tentang ruang dan waktu. "Kalau kita bepikir ke arah sana, mungkin 50 tahun lagi bisa didapatkan potongan tubuh lagi. Lalu kapan kita melaksanakan upacara itu?" tanya Pedanda retoris. Jadi, katanya, seperti contoh luka, apakah kita menunggu hingga darahnya habis? Lalu baru diobati? Jika ada luka lagi, maka kita kasi antibiotik lagi, supaya luka tidak lebar. Maka upacara ini minimal melokalisir luka itu, bahkan akan menyembuhkan. Jadi mungkin masih ada nanahnya, maka kita hilangkan pelan-pelan. ''Jadi dalam ajaran Hindu, apabila roh telah meninggalkan jasadmu wahai manusia. Maka jasadmu itu tidak lebih daripada panca mahabutha yang harus dikembalikan. Jadi kita sudah menganggapnya kembali''.

Lalu apa maksud upacara itu? Menurut Pedanda, dilihat dari sastranya, setiap ada kejadian yang sifatnya negatif atau merugikan umat manusia, di tempat itu terjadi ketidakseimbangan. Setiap terjadi ketidakseimbangan itu akan terjadi masalah. Misalnya kalau naik speed boat ke laut, kalau speed boad-nya seimbang, akan bagus jalannya. ''Keseimbangan ini juga kita lihat dari segi muatan yang ada. Juga kita lihat dari cuaca dan air laut. Jika tidak seimbang, maka terjadilah peristiwa. Maka upacara ini maksudnya untuk membuat suatu keseimbangan, makanya bentuknya caru. Caru ini ada di selatan, utara, timur, barat dan tengah. Itu dimohonkan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar keseimbangan terjadi dan muncul dari Kuta. Padahal keseimbangan itu bukan hanya di Kuta, namun juga Bali, Indonesia dan dunia. Kita mohon kepada Tuhan dari sini,'' papar Ida Pedanda sembari menambahkan makna dari caru itu adalah mengembalikan keseimbangan sehingga upacara itu dalam lontar disebut sebagai Tri Madyaning Warna, yaitu di pertengahan atau poros bumi. ''Itu ajaran agama Hindu tentang bhuwana.''

(Sumber: Bali Post)

Post Reply

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest