”Tri Hita Karana” Retak

Kumpulan-kumpulan Dharma Wacana Ida Pedanda Gede Made Gunung dalam bentuk Video / Audio / Foto dan artikel-artikel media tulis tentang Ratu Peranda dari berbagai sumber media.
Post Reply
User avatar
Admin
Admin
Posts: 213
Joined: Mon Jan 07, 2013 4:28 pm
Location: Bali

”Tri Hita Karana” Retak

Post by Admin » Mon Apr 15, 2013 3:21 pm

PERUBAHAN perilaku masyarakat yang begitu drastis, menjurus ke degradasi moral sangat memprihatinkan berbagai kalangan akhir-akhir ini. Kekejaman manusia kian meningkat. Tidak hanya terhadap sesama, juga pada lingkungan termasuk tumbuh-tumbuhan dan binatang. Hubungan mereka dengan Tuhan jadi semakin renggang karena alasan sibuk, kendati dalam pembuatan sesajen saat upacara keagamaan tampak kesan jor-joran. Begitu pendapat Ida Pedanda Gde Made Gunung dalam acara dharma wacana di Balai Banjar Tampak Gangsul, Senin (21/5) lalu.

Keharmonisan masyarakat tidak berlangsung seperti dulu, kata Pedanda, karena masing-masing orang bertindak dan berucap tidak sesuai porsinya. Padahal para leluhur kita mewariskan sejenis masakan sebagai analoginya dan adonan seperti itu hanya dijumpai di Bali, tambahnya. Lawar adalah penganan yang dimaksud. Masakan spesifik Bali itu akan terasa lezat bila masing-masing bumbu dan bahannya tidak saling melebihi atau mengurangi. Padahal lawar berisi nyaris semua jenis bumbu yang mengandung berbagai macam rasa, manis, pahit, sepet, asin dan pedas. Bahkan yang berbau busuk seperti terasi, juga dibutuhkan untuk penyedap rasa, asalkan tidak dimasukkan secara berlebihan. Pun bahan-bahannya, ada daging mentah, daging yang telah digodok, sayur nangka dan merica hijau mentah. Jadi, suguhan lawar sejatinya, bukan buat konsumsi lidah dan perut semata, namun ada makna filosofi yang terkandung di dalamnya untuk dicerna otak, yakni keharmonisan, tutur Rubag.

Tidak hanya lawar, juga gamelan mencirikan keharmonisan dan keindahan. Irama atau melodi yang mampu dihasilkan gender belum terdengar indah dan menarik tanpa diikuti, riyong, cengceng, kempur, jublag, jegog, gong, kempluk dan kendang. Masing-masing instrumen tersebut menyumbang keindahan, apalagi ditambah penyacah sebagai pemanis. Keras dan lembutnya pukulan masing-masing instrumen tergantung tabuh yang dimainkan, membuatnya terdengar harmonis di telinga. Akan kedengaran aneh bila sebuah instrumen dipukul keras padahal seharusnya lembut. Itu akan membuat tabuh uwug dan ditertawai penonton. Gotong royong, toleransi dan kebersamaan adalah filosofi gamelan. Leluhur kita memang luar biasa dalam menciptakan artefak-artefak kebudayaan dan gamelan merupakan salah satu dari sepuluh warisan asli Indonesia, yang tidak dimiliki bangsa lain di dunia. Kalau saja orang Bali merenungkan kembali semua peninggalan leluhur, terutama lawar dan gamelan ini, keprihatinan seperti yang dilontarkan Pedanda Gunung tidak akan terjadi, kata Purwacita.

Benar, segala sesuatu yang diciptakan para leluhur kita merupakan simbol-simbol keharmonisan. Sayang, kita sering munafik bahkan kadang-kadang menjelek-jelekkan yang tradisional karena terbius modernitas. Banyak orang seakan alergi atau benci pada yang busuk, semisal terasi yang dikatakan Rubag tadi, namun doyan makan rujak atau tahu campur. Padahal kedua adonan itu tidak akan enak tanpa terasi sebagai penyumbang rasa di dalamnya. Bahkan terkait ikhwal degradasi moral, banyak orang memperebutkan yang di dalam Sarasamuscaya dimetaforakan sebagai lembah dalam yang licin berbau busuk. Coba baca di koran dan media elektronik belakangan ini! Banyak kasus perceraian, selingkuh, pelecehan seksual, pelacuran tingkat tinggi dan rendah, pemerkosaan akibat kegandrungan pada yang berbau kurang sedap itu. Celakanya, orang terhormat yang berjulukan wakil rakyat pun diisukan mengabadikan kebusukannya lewat video dan jadi tontonan publik. Rasa malu benar-benar telah tanggal dari cantolannya di hati makhluk tersempurna ciptaan Tuhan ini, ujar Smarajana.

Satu hal yang membuatku cemas adalah gampangnya orang mencabut nyawa sesamanya dewasa ini. Ironisnya itu sering terjadi di tempat orang-orang yang mencari kesenangan. Kafe adalah tempat kumaksud, yang jumlahnya kini konon ratusan di sekitar Denpasar dan Badung. Di tempat seperti itu keselamatan fisik dan nyawa orang mudah terancam. Padahal kebanyakan pengunjung kafe bertujuan untuk menghibur diri. Menenggak berbagai minuman beralkohol, ditemani cewek-cewek berpenampilan menor untuk memandu lagu dan melantai. Nah, ketika berdansa-dansi itulah keributan sering meletus. Baik karena saling senggol, saling pandang atau memang sudah ada bibit sentimen sebelumnya. Begitu seringnya terjadi peristiwa berdarah yang di antaranya merenggut nyawa, bagiku, kafe bukan lagi sebagai tempat hiburan, tapi gelanggang adu nyawa, komentar Sumerta.

Aneh, dalam laporan Bali Post, Selasa (22/5), konon retribusi kafe-kafe yang menjamur di sekitar Denpasar terhadap Pendapat Asli Daerah (PAD) nihil. Namun belasan nyawa sudah melayang, juga puluhan yang luka berat akibat perkelahian dengan senjata tajam maupun senjata api di tempat seperti itu. Kok aparat yang berkompeten seakan membiarkan peristiwa demi peristiwa terjadi ya? Belum lagi meningkatnya pengidap HIV di Bali, ditengarai akibat menyebarnya kafe-kafe hingga ke pelosok desa. Kalau menyimak kejadian pembunuhan di sebuah kafe Denpasar Barat baru-baru ini, yang lantaran utang-piutang korban dibantai seperti bukan manusia, aku jadi curiga pada unsur niskala. Itu terkait kata Pedanda Gunung, yang mengatakan bahwa kini banyak bencana alam terjadi sebagai balasan alam terhadap manusia yang berlaku kejam padanya. Tanah longsor, banjir, gempa, tsunami dan rabies. Jangan-jangan orang yang diduga tewas diserang kera gila di sebuah sungai di Nongan Karangasem karena balas dendam akibat tatanan Tri Hita Karana mengalami keretakan, kata Rubag.

Tetapi kera gila itu sudah berhasil ditembak mati setelah diburu berhari-hari oleh masyarakat dibantu aparat. Senin (14/5) dia berhasil membunuh manusia dengan beberapa gigitan di sekujur tubuh terparah di leher. Sabtu (19/5) dia berhasil dibunuh aparat dengan sebutir timah panas. Jadi skornya 1 : 1. Malah Bupati Karangasem menginstruksikan Dinas Peternakan untuk mengeliminasi satwa kera di sekitar Sungai Jenah, Desa Nongan Kecamatan Rendang. Mungkin dia belum puas dengan skor impas itu. Keruan saja perintah yang terdengar hingga ke DPRD Bali itu mendapat reaksi keras dari wakil rakyat. Instruksi Bupati Karangasem tersebut dianggap bertentangan dengan konsep Tri Hita Karana. Seharusnya, kata wakil rakyat itu, tindakan mengeliminasi dikoordinasikan dengan masyarakat, yang mungkin punya pantangan untuk membunuh kera. Argumen wakil rakyat itu agak mirip dengan sinyalemenmu tentang Tri Hita Karana. Lalu, unsur niskala macam apa yang kamu curigai melatari pembunuhan di kafe-kafe? tanya Darsana di akhir paparannya.

Menurut Pedanda Gunung, kita gampang membunuh apa saja untuk hal-hal yang kita anggap praktis dan ekonomis. Membuang sampah ke got dan kali sehingga menimbulkan kemampetan dan banjir saat hujan. Bahkan ada sungai yang terbunuh karena permukaannya rata dengan daratan akibat sampah yang tertimbun bertahun-tahun berubah jadi tanah. Nah, ladang dan sawah pun dibunuh, lalu di atasnya didirikan berbagai jenis bangunan. Bahkan kebanyakan kafe dibangun di atas tanah yang dulunya sawah atau ladang. Padahal di tempat-tempat seperti itu sebelumnya ada palinggih, yang dibangun sebagai tempat atman atau makhluk-makhluk astral yang menunggu tempat itu. Bahkan untuk sekumpulan sawah ada Pura Subak yang kini nyaris tidak ada yang memelihara, bahkan ada yang dieliminasi karena di sekitar tempat suci itu lahannya tidak lagi sawah, melainkan perumahan. Malah banyak di antara penghuninya adalah penganut keyakinan berbeda. Aku curiga roh atau atman, yang juga disebut makhluk astral itu kini menuntut balas. Bukan hanya di kafe-kafe, di tempat lain pun urusan sepele bisa berkembang jadi masalah besar. Simak kasus pengusiran beberapa keluarga dari tempat kelahirannya yang terjadi di beberapa tempat di Bali! Ini semua akibat ulah manusia yang meretakkan tatanan Tri Hita Karana dan melupakan filosofi lawar dan gamelan. Semoga manusia Bali cepat sadar, tandas Rubag.

(Sumber: Bali Post)

Post Reply

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest