Cegah Bencana dengan Kembali ke Alam

Kumpulan-kumpulan Dharma Wacana Ida Pedanda Gede Made Gunung dalam bentuk Video / Audio / Foto dan artikel-artikel media tulis tentang Ratu Peranda dari berbagai sumber media.
Post Reply
User avatar
Admin
Admin
Posts: 213
Joined: Mon Jan 07, 2013 4:28 pm
Location: Bali

Cegah Bencana dengan Kembali ke Alam

Post by Admin » Tue May 21, 2013 5:37 pm

pedanda.JPG
pedanda.JPG (16.34 KiB) Viewed 8873 times
Berbagai sinyal yang diberikan oleh alam selama ini mestinya segera disikapi oleh seluruh umat manusia. Tanda-tanda alam ini harus dapat kita tangkap dan pelajari maknanya. Jangan sampai gejala yang diberikan alam ini tak terhiraukan, sehingga akan merugikan keberadaan manusia.

DEMIKIAN rangkuman pembicaraan yang dilakukan dengan Ida Pedanda Made Gunung, di Geria Purnawati, Blahbatuh, Gianyar, Selasa (18/7) kemarin, menyikapi tanda-tanda alam yang terjadi belakangan ini.

Kondisi alam yang terjadi seperti dinginnya udara belakangan ini membuat Ida Pedanda bingung. Padahal saat ini penanggal sasih belum memasuki sasih karo, tetapi kondisi alam saat ini sudah sangat dingin. ''Kondisi seperti ini mengingatkan kita pada dua minggu sebelum tsunami di mana cuacanya sangat panas. Isyarat serupa juga terjadi sebelum gempa Yogyakarta. Matahari menampakkan hal yang berbeda. Matahari yang menyinari bumi mekalangan (surya mekalangan). Demikian pula dengan yang terjadi saat ini. ''Dengan kemampuan yang kita miliki, sangat sulit untuk menerjemahkan apa makna dari tanda-tanda yang ada saat ini,'' kata Ida Pedanda.

Untuk tanda-tanda seperti ini sebenarnya hampir sama dengan apa yang dituangkan dalam lontar Rogo Sengara Gumi. Di dalam lontar itu, paparnya, berbagai tanda alam seperti sakit tidak ada obatnya dan anak-anak kecil tidak bisa dinasihati, tindakan asusila termasuk kriminalitas sangat meningkat. ''Semuanya ini menandakan ciri-ciri dari gumi kali,'' jelas Pedanda.

Jika dalam kehidupan ini manusia tidak bersahabat dengan alam, maka alam pun tidak akan bersahabat dengan manusia. Kapan manusia ingin bersahabat dengan alam, saat itu alam pun akan bersahabat dengan kita. Teori ini sesuai dengan apa yang dibaca dalam buku mengenai misteri air.

Bencana tsunami yang terjadi saat ini dapat dikategorikan sebagai perwujudan dari ketidakbersahabatan antar-alam dan manusia. Satu contoh disebutkan, saat ini tidak ada satu pun sungai yang airnya bersih. Padahal dari kepercayaan orang Bali, sungai itu mesti dipelihara karena merupakan salah satu tempat untuk upacara. Kejahatan manusia yang dilakukan kepada air itu sangat menjadi-jadi. Padahal manusia itu sendiri mengetahui 70 persen tubuhnya berasal dari air. ''Untuk menangkal tsunami, marilah kita bersahabat dengan alam dan bersahabat dengan air,'' ajak Pedanda. Mulai dari rumah, parit, sungai. Di samping itu, umat Hindu tidak bisa terlepas dari keberadaan air, karenanya dahulu Agama Hindu juga disebut sebagai Agama Tirtha.

Adanya bencana seperti gempa, tsunami ini tidak mengherankan Pedanda yang terkenal dengan dharma wacananya itu. Semua itu disebabkan oleh manusia itu sendiri. Pembabatan hutan, pembuatan bendungan sungai dan parit yang tak karuan-karuan merupakan salah satu penyebab. Pendanda memberikan perbandingan hal tersebut pada pembuluh darah manusia jika dipersempit sehingga dengan sendirinya lama-kelamaan manusia tersebut akan mati. ''Jika kita sayang pada diri kita, mengapa kita tidak sayang pada alam kita,'' jelasnya. Untuk mencegah terjadinya bencana dengan tanda-tanda yang ada saat ini hendaknya semua manusia kembali ke alam.

Post Reply

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest